Daily Journal

,,,Suami

Popa

Entah kenapa dan bagaimana… gw menyadari bahwa suami gw seorang manusia saat melihat dia sedih karena bokapnya (we call him “Popa” or “Opung”) sakit hingga unconscious. Gw menyadari keegoisan gw sebagai istri selama ini sering kali me-dehumanized suami gw. Gw menyadari kalau gw ini orang yang “gw-oriented”.

Gw emang terkesan banyak mengalah karena gw rela pindah negara, ngurus anak sendirian, nemenin suami kalau business tripnya lama untuk ngurusin dia dan banyak action gw lainnya yang emang seolah” gw yang lebih banyak berkorban dalam rumah tangga ini. Tanpa gw sadari, gw menganggap suami gw ini seperti mesin produksi duit sehingga gw banyak nuntut. Kadang gw pun lupa kalau suami gw bisa lelah karena gw udah lupa kapan terakhir kali gw nawarin diri untuk pijat pundak atau kepala dia sepulang kantor.

Ah, pokoknya banyak dosa gw karena gw egois.

Gw -kayaknya- nggak pernah berterima kasih sama suami gw karena udah memberikan kita sekeluarga hidup yang enak dan nyaman. Usaha suami gw menghidupi keluarga ini nggak cuma demi kebutuhan anak2 semata tapi juga menghidupi gw sebagai seorang wanita. Suami gw nggak pernah menganggap gw sebagai seorang istri aja, yang kerjaannya ngurus rumah dan anak, tapi dia tetap memperlakukan gw sebagai seorang wanita, maka gw dikasih me-time, uang jajan, dikasih waktu extra kalau mau jalan2 sama temen2 gw. Bahkan gw dikasih banyak kesempatan untuk tetep kerja kalau gw ingin punya penghasilan sendiri. Gw sering dikasih surprise, karena cewe mana yang ngga suka surprise?

Sejak minggu lalu popa sakit dan harapan hidupnya sangat tipis kata dokter. Bukan cuma mama (yang udah jadi pendamping popa selama 45 tahun) yang shock, tapi juga suami gw. 11 tahun berumah tangga dengan aidil, gw baru sekali ini ngeliat dia sedih, dan hati kecil gw sampai berkata… oh ternyata suami gw juga manusia yang bisa sedih!

Sejak popa sakit, gw menyadari suami gw adalah cerminan bokapnya. Keduanya tipe laki2 setia yang kalem menghadapi istrinya dan selalu menghormati wanita. Keduanya pekerja keras tapi di sisi lain, mereka family man. Keduanya nggak hanya mirip secara fisik dan sifat, tapi memang seperti replikasi yang diciptakan tuhan untuk wanita2 yang beruntung seperti gw dan mama.

Ada masanya saat kita lagi berantem, gw bisa heran kenapa gw mau aja nikah dengan aidil. Tapi saat ini sudah terjawab, karena gw memang cewe yang beruntung.

Gw berharap dulu gw nggak menyakiti hati suami gw dengan omongan gw atau perbuatan gw… I know tidak ada kata terlambat, so gw harus berjanji tidak akan melakukan atau mengatakan hal2 yang akan menyakiti hati suami gw.

Karena suami gw juga manusia. Sama seperti gw.

sign1

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s