Daily Journal

,,,sulit prihatin

Gw termasuk orang yang sulit prihatin jika ada musibah menimpa seseorang akibat perbuatannya sendiri.

Kita langsung ke contoh yang extremenya ya… Orang bunuh diri!

Sebelumnya intermezzo dulu. Pas gw pelajarin psikologi di S1, gw belajar mengenai episode depresi dimana orang berada dalam fase ‘Suicidal’. Jadi fase suicidal ini memang sebuah fase dimana orang pengen bunuh diri. Singkatnya, saat itu agama atau keluarga berada di bawah keinginan untuk mati. Mungkin nggak fase suicidal itu dilalui? Ya mungkin. Ada banyak di dunia ini orang yang pernah-pengen-mau bunuh diri (di fase suicidal) tetapi bisa diselamatkan. Misalnya pada saat itu datang ortunya (kayak di film-film) atau bahkan bisa aja dia sadar sendiri. Kayak tiba2 inget agama trus istighfar trus dia berhasil keluar dari fase itu. Yes, karena bisa switch itulah maka suicidal ini disebut “fase”… bukan cuma “keinginan untuk bunuh diri”.

Jadi kalau ada temen yang pernah bilang “Hei gw ini suicidal karena gw suka merasa ingin bunuh diri.” No no, bukan gitu kamsud ‘Suicidal’ itu.

Well…… itulah pemahaman gw ya.

Jadi pada saat ada bunuh diri yang terealisasi, bisa dibilang saat dia melakukan bunuh diri itu, mati itu berada di on top their mind dan agama or keluarga ada di bawahnya.

So back to the major subject, yes, pada saat ada orang bunuh diri, sulit bagi gw untuk ikut sedih. Gw tau setiap kematian itu musibah untuk keluarga dekatnya, terutama ortu, sibling, spouse, dan anak2nya. Gw kasian dan empati sama keluarganya, but for them “The Killer”, gw hanya berpikir… well, lo mendapatkan apa yang lo inginkan.

Otak dan hati gw sangat sadis dalam hal ini. Udah lama sejak gw mencoba untuk menggali empati gw. Misalnya dengan membayangkan bagaimana kalau keluarga dekat gw yang bunuh diri, tapi tetep gagal paham. Terlebih setelah gw jadi mualaf dan dapat penjelasan CLEAR mengapa bunuh diri dilarang.

Hal ini terbukti lagi saat CB vokalis LP meninggal karena bunuh diri beberapa minggu lalu.

Suami (kebetulan fansnya LP): Yank, CB meninggal.

Gw: HAH? DIA BUKANNYA MASIH MUDA? KENAPA? 😦

Suami: Iya, suicide katanya.

Gw: Oh. Ya emang itu maunya.

Suami (nanya karena penasaran): Dia kan punya istri, anaknya 6, kamu nggak kasian.

Gw: Haaa anaknya 6? Kasian anak-istrinya… tapi dia nggak mikirin ya udah kalau dianya mah biarin.

You know what I mean? Iya, sampai saat ini masih “sesadis” itu otak dan hati gw menyikapi suicide.

Begitu juga saat ada orang meninggal karena drugs. Mostly, penggunaan drugs related dengan mental illness yang dialami seseorang. Entah apa namanya. Tapi narkotik dan sejenisnya itu sungguh nggak berbahaya bila digunakan sesuai peruntukkannya dan dosis yang diizinkan dokter (dengan catatan dokternya nggak malpraktek juga ya). Gw bukan psikiater jadi nggak tau teknisnya. Yang gw paham, bila sudah ketergantungan, ya itu urusan elo!

Kenapa gw ngomong gitu?

Gw pernah pisah dengan anak pertama gw sesaat setelah gw ngelahirin dia. Susah untuk melalui masa2 itu karena secara mental gw udah hamil 9 bulan dan kesakitan pas ngelahirin, lalu badan gw pasca melahirkan sudah siap menyusui. Jadi fisik gw itu sakit banget karena tetek gw memproduksi susu, rahim gw berusaha balik ke normal, ada bekas jaitan yang mesti dirawat, dll. Yah meskipun jujur 99,9% ini urusan mental tapi urusan fisik yang 0,01% bener2 jadi penderita pelengkap.

Gw ngerti ini untuk kebaikan gw dan keluarga gw. Dan someday kita akan bertemu lagi. Udah dijanjikan kapan gw bisa ketemu anak gw lagi.

Mental gw nggak sanggup menerima itu dan gw mulai lari ke obat2an yang gw tau bisa menenangkan gw. Awalnya simple dan kayak kebanyakan orang. Gw sedih malam ini. Gw pengen tidur dan bangunnya besok siang. (Hayo mungkin ada yang pernah ngerasa gini juga dan negak panadol atau obat batuk?)

My mother is an addict. One day I told her “Ini kalau ada apa2 aku nggak mau ikutan lho, and I wont feel sorry”

My husband… tau young living oil nggak? Dia addict dengan yang jenis High Potential. Sampai suatu hari si botol kecil laknat itu ketinggalan di rumah dan dia GAGAL PRESENTASI. Gw sampai ribut sama karena dia nyalahin minyak sialan itu yang ketinggalan di rumah sementara gw merasa ya lo gagal, gagal aja. It’s just a combination of sandalwood, papermint, citrus, cinnamon, jasmin, blah blah blah dan dipikir bisa nyelamatin presentasi lo? Yang nyelamatin lo itu Tuhan keles!

Sungguh SUSAH gw bikin suami gw lepas dari High Potential itu. Tapi sekarang BISA karena kita bokek jadi nggak prioritas beli minyak2an gitu lagi LOL.

#koqjaditsurhad

OK balik lagi.

Gw ingin meningkatkan empati gw pada korban bunuh diri (aka The Killer) dan korban narkotik (aka Druggie or Junkie). Iyes, karena mereka korban dari mental illness umumnya. Kalau untuk Junkie, mungkin beberapa dari mereka adalah korban karena ketidaktahuan atas “manfaat” obat itu yg sesungguhnya. But then for some people, memang ada keputusan yang secara sadar diambil bahwa mereka pengen aja OD. Atau kombinasi akut: OD sampe mati. Nah… makin gagal kasian gw.

People say YOLO (You only live once), tapi bagi gw YODO (You only die once) soalnya nanti ada kehidupan lain yang lebih kekal. Di kehidupan yang sekarang, make it count. Sesuatu selalu lebih besar daripada keinginan untuk mati atau keinginan untuk kobam. Temukanlah “Sesuatu” yang lebih besar itu.

sign

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s