Daily Journal

,,,semua gara2 instageram!!!

Di sela2 rutinitas gw sebagai SAHM, gw juga sebenernya jadi WAHM. Tepatnya freelance yang sudah dipastikan gw bisa kerja secara remote. Enaknya punya title psikolog tuh ya itu, title lo bisa dipakai untuk menjual diri dengan profesi yang sifatnya individulis *apadeh* Intinya gw bisa freelance, nggak usah bekerja kantoran karena yang dibutuhkan adalah -kalau bahasa bisnisnya- profesional judgment.

Gw sama suami gw commit, bahwa uang yang gw dapetin 100% jadi milik gw dan sebaiknya ditabung untuk gw atau dihabiskan untuk personal leissure gw. Awalnyaaaa banyakan ditabung.

Tapi sejak  gw mengenal instagram-shopping, gw jadi keterusan dan kalau dihitung2…. banyak deh uang gw habis untuk belanja barang2 via instagram. Gimana nggak, kondisinya sekarang lagi mendukung banget:

  1. Banyak toko2 yang “TRUSTED” di instagram yang jual barang itu bisa 100.ooo rupiah atau lebih, much-much-much cheaper dari tokonya.
  2. Gw lagi sering bolak-balik ke Jakarta. Means, gw bisa mendapatkan barang itu tanpa ongkos kirim internasional.
  3. Endorser2 di instagram itu umumnya teman gw, at least seumuran gw. Gw jadi merasakan kepinginan yang sama (well, couldn’t say kebutuhan yang sama sih).
  4. DUITNYA ADA! Ini yang bikin “pembelian dapat terjadi”.

Yang biasa gw beli adalah skin care (see?), make up, dan barang2 lainnya yang awalnya gak pernah ada dipikiran gw. Sampai dengan setahun lalu, untuk urusan kulit gw cuma pakai sunblock wajah ERHA + badan Nivea, krim malam, dan shea butternya L’occitane. Kenapa sekarang gw jadi punya Laneige dan SK-II? Begitu juga untuk urusan makeup, gw ini tipe lip-gloss and eyeliner lady, kenapa sekarang gw jadi pakai pinsil alis, blushes, matte lipstick, atau lip coat/cream/tint?

KENAPA HAH?

Ya gara2 instagram.

Temen gw pernah ngomong tentang proses Endorse-mengendorse di postingannya yang ini dan gw rasa itu bener2 aja. Pada saat gw liat lipstick baru di-endorse (endorsannya sebenernya lebih ke toko instagramnya) gw nggak mikir itu cocok atau nggak buat gw. Main beli aja. Padahal kalau di counter kan gw pasti nge-swatch jadi tau ya cocok atau nggak. Ini langsung PM AJA SIS!

Abis PM dikasih tau katalognya.

Dikasih tau pricelistnya.

Nggak gitu mahal yah….

Stock tinggal 2 sis, yang ini best seller

OK sis mau satu

Matek gw.

Padahal kalau gw pikir2, endorsan toko instagram itu mulai nggak masuk akal lho. Gw pernah nggak sengaja liat satu toko yang isinya menjual handuk khusus lap wajah. Dia pasang studynya kalau handuk badan itu penuh kuman dan sampai sekarang masih banyak yang pakai handuk badan untuk lap muka. Maka dikeluarkanlah lap wajah yang blablablabla…

Sekarang, keluar lah produk tissue wajah. Makin ngga make sense sebenernya. Tissue wajah itu udah dimana-mana. Ada yang beli? Ada tapi bukan gw (soalnya ada screencapan testimoninya).

Mungkin bener kata dosen gw jaman kuliah dulu, bahwa advertising (baca: endorsan) itu berbahaya. Lama2 bakal ada endorsan krim wajah berbeda untuk wajah kiri dan wajah kanan. Asal yang endorse celebgram dan captionnya “masuk akal” gw rasa bakal ada yang beli juga… 😐

sign1

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s