Daily Journal

,,,Bahasa Ibu

Ada cerita menarik pas pulang ke Jakarta kemarin, yaitu soal bahasa. Sebelumnya gw flashback dikit ke kejadian beberapa tahun lalu saat gw dan Aidil sempat berdebat soal bahasa yang digunakan anak2 di rumah.

Perkembangan bahasa Inggris Kevin dan Ellie di sekolah nggak begitu bagus. Walopun begitu, itu nggak menghambat komunikasi mereka dengan teman2nya di sekolah. Mereka masih bisa main meskipun kalau ngomong jadi mikir dan kebanyakan “nggg….. nggggg……” karena mencari bahasa Inggris yang tepat. Contohnya,

Kevin nemuin keong di pantai saat lagi outbound (macem keong yang jaman dulu kita kecil suka kita buat lomba atau kita hah-hah-in), dan dia mau nunjukin keong itu ke temannya. “Look! I found ngggg….. ngggg….. uuuuhhh….. a crab!” Secara harfiah itu memang salah, tapi kan lokasinya di pantai, jadi mungkin Kevin juga ngga tau bedanya keong dan kepiting. Cud be kan ya…..

Dan banyak kejadian lainnya yang menunjukkan bahwa anak2 gw -istilahnya- nggak sefasih teman-temannya dalam berbahasa Inggris.

Itu konsekuensi yang kami terima di saat kami memutuskan untuk menggunakan bahasa ibu (Indonesia) sehari2 di rumah. Jadi walaupun sempat awalnya berbahasa Inggris, akhirnya gw dan Aidil memutuskan  untuk pakai bahasa Indonesia di rumah. Alasannya singkat: itu bahasa ibu kami. Titik.

Urusan bahasa Inggris gampang… Belajar aja di sekolah. Toh tiga anak2 ini adalah anak2 yang cukup beruntung karena ada wadahnya berbahasa Inggris sejak dini, bukan kayak gw dan Aidil dulu yang pakai les bahasa inggris khusus, seminggu dua atau tiga kali pulang sekolah.

Nah… Setiap kali pulang ke indonesia, anak2 gw kelihatan agak susah juga komunikasi ke bahasa Indonesia dalam ‘bahasa anak kecil’. Orang dewasa ngomong kan cenderung pakai bahasa baku, sementara anak kecil dengan bahasanya sendiri. Kevin dan Ellie tuh ampir nggak ada temen ngomong bahasa indonesia kalau di sini.

Pas lagi main di indoor playground gitu, ada anak minta gantian ke Kevin. Bilangnya, “Udahan dong kakak, gantian sama aku.” Kata2 yang gw italic itu agak asing di Kevin, jadi dia balik bertanya, “Maksud kamu sekarang waktunya kamu main?”

Kalimat itu dia pilih karena untuk gantian sama adeknya saat bermain, gw biasanya ngomong ke dia dengan bahasa “Abang, sekarang waktunya adek yang main ya.” Gw nggak pakai kata udahan, gantian, atau giliran. Simply karena gw orang batak biasanya ngomongnya pendek dan lugas, jarang pakai slang.

Untungnya Kevin ini cukup thoughtful, jadi kalau dia nggak paham, dia akan bertanya maksudnya apa dengan bahasanya sendiri. Ellie, secara personality, memang agak keras, jadi kalau nggak ngerti dia bisa pura2 budek atau kasih muka what-the-fuk-are-you-talking-about.

Suatu hari, bertepatan dengan kejadian di PIM yang gw cerita di beberapa post lalu, Kevin overheard seorang ibu di meja sebelah. Ibu itu lagi ngomong sama anaknya seusia Ami. Ngomong dengan bahasa Inggris dan dengan pronunciation yang nggak bagus2 amat. Gw sering sih denger preferensi orang indonesia sekarang ngajarin anaknya bahasa inggri sejak dini, atau multilingual. Tapi gw nggak expect Kevin akan bertanya kepada gw:

“Kita tinggal di luar negeri Ma, tapi kok orang yang tinggal di dalam negeri malah pakai bahasa Inggris dari bayi?”

Kalau dulu gw nggak pernah diskusi sama Adinda soal penggunaan bahasa untuk anak, mungkin gw nggak bisa jawab pertanyaan Kevin.

Gw emang lebay cari banyak opini dan referensi tentang penggunaan bahasa. Mulai dari cari di internet sampai nanya ke semua orang, sampai nanya ke anak umur 17 yang ngga ada hubungannya – semuanya gw tanyain opini gimana kalau anak kecil mulai berbahasa Inggris sejak dini. Dan memang jawaban yang paling memuaskan adalah dari Adinda, karena dia on the same boat (tinggal di luar negeri) dan punya anak2. Dia pun pernah ‘trial-error’ ngajarin bahasa Inggris ke anak kembarnya sejak kecil.

Menurut Adinda, bahasa ibu tetap yang terbaik. Don’t fake it.

Adinda ngga menyebutkan bahasa Indonesia adalah yang terbaik buat anak, atau dengan bahasa Inggris anak akan lebih blablablabla… Dari Adinda itu, gw pertama kali teringat lagi dengan istilah ‘Bahasa Ibu’, hal yang gw lupain selama gw mencari jawaban atas problem gw.

So, gw jelasin ke Kevin dengan istilah Bahasa Ibu atau Mother Tongue. Dan gw jelasin bahwa dia akan tetap diterima di local life sini karena dia beruntung bisa belajar bahasa Inggris di lingkungan yang tepat.

Gw tidak bermaksud untuk menggurui siapapun. Urusan parenting ini memang bukan hal yang mudah. Gw sebagai ibu terus belajar supaya gw bisa provide anak2 gw dengan pilihan yang bijak. Tapi untuk kesekian kalinya gw diingatkan, masalah itu akan mudah diselesaikan kalau kita selalu kembali ke basic. Di sana ada cara untuk mencari jawaban dengan cara yang paling sederhana. #notetoself

Kissous.

sign1

4 thoughts on “,,,Bahasa Ibu

  1. Ada temenyaaa ;p ini juga yang gue rasain trial error nerapin bahasa apa ke anak pengenya bahasa ibu tapi si anak nyrocos inggris . Switch ke inggris guenya balas pake mikir lamaa. Masalah bahasa ini kesanya sepele ya tapi penting banget sebenernya

    1. Iya ternyata penting banget ya Nissaa… Itu pun yang gw alami diawal-awal karena bahasa inggris gw nggak sebagus suami gw. Gw nggak terlalu menyadari apa impactnya, tapi kalau diingat2, waktu umur 4-5 tahun Kevin tuh suka lamaaa gitu jawabnya kalau ditanya dan dia makes funny faces kayak lagi mikir atau shock. Ternyata itu ngikutin gw yang kalau ditanya suka diem dulu buat mikir 😀

      How are you?? Anyway congrats dan semoga lancar ya untuk your second pregnancy!!! :*

  2. Dee, suami aku punya temen yg PHD NYA tentang bahasa. Dia bilang penting bgt mengajarkan anak bahasa ibunya karena itu memang keluarganya pun msh berbahasa tsb. Bahasa yg lain bisa belajar di sekolah. Gitu katanya. Kebetulan istrinya pun org jepang yg lahir di US. MEREKA semua berbahasa jepang dgn semua keluarga dan teman dan bahasa Inggris belajarnya diluar rumah. Cuman yah lagi2 kembali ke keluarga sih ya

    1. Oh My Gawdd *mata lope-lope* aku jadi pengen research2 jurnalnya, apalagi PHDnyaaa!
      Aku lagi banyak teman yang dilemma untuk ngajarin anaknya pakai bahasa apa, dan karena aku sudah ‘memihak’ kepada bahasa Ibu, jawaban2ku cenderung biased gitu hahaha…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s