Bloginterview · Uncategorized

,,,on “Rok Mini” Case [Bloginterview]

Awal minggu ini seperti biasa pagi2 gw selalu membuka k*****.com, dan ada berita mengenai rok mini dan pemerkosaan di Indonesia. Spesifiknya di Jakarta kali ya? Setelah gw baca berita itu dan beberapa link terkait,,, I laughed. Bagaimana pembuat berita bisa begitu naif dan nggak memberikan report/opini yang ‘berotak’ mengenai kasus rok mini tersebut?

Gw kerja lebih dari 2 tahun sebagai analis kriminal di sini. Pola kejahatan memang agak berbeda dari di Indonesia tapi namanya pemerkosaan biasanya punya beberapa root causes yang sama. Gw nggak akan ngasih kuliah singkat bagaimana itu pemerkosaan dan rok mini (kaitannya) karena gw udah kadung kesel sama Governoor yang omongannya susah diterima itu PLUS rakyat yang emosional nggak pake mikir bikin demo itu. Jadi gw menginterview 4 teman gw, teman2 yang gw rasa sangat objektif untuk ngasih pendapat karena they are so smart dan berasal dari latar belakang yang berbeda-beda. So this is my first Bloginterview!

  • Adinda Jivanka (29, Mother of 3, Ph.D Student in Psychology of Youth Interventions, Junior Assistant Professor, living in The Netherlands)

“Pasti ada hubungan antara rok mini dan pemerkosaan, tapi sebagai masyarakat yang plural dan katanya mau menjunjung tinggi kemerdekaan masyarakatnya bukan berarti kritik untuk berpakaian disampaikan dengan cara seperti itu. Budaya di Indonesia udah bergeser jauh. Zaman dulu cara berpakaian masih sopan, nggak ada wanita yang mengendarai motor, meskipun begitu belahan dada encim-nya cukup rendah dan yang namanya permerkosaan sih pasti ada-ada aja…

Menurut gw sebagai rakyatlah yang harus sadar tentang moral. Ketika ada seseorang menghimbau untuk menutup belahan dada dan paha, pasti maksud orang itu bagus bukan melecehkan kita. Kalau abis dihimbau kita malah marah-marah bahkan mengancam, coba dipikirkan kembali: bukankah overly defensive is a sign of insecurity?”

  • Adhit Jivanka (29, Father of 3, Ph.D in Science & Innovation, Industrial Engineer, living in The Netherlands)

“Selama dalam batas ‘mini’ yang wajar dan pada tempatnya gw suka banget liat cewe pakai rok mini. Kalau terlalu mini apalagi kaki atau pahanya jelek ya gw eneg lah. Intinya sadar diri aja dan kesadaran kalau pakai rok mini bukan untuk showing off your legs tapi untuk kenyamanan, itu acceptable kalo kata gw. Kalau emang tujuannya untuk terlihat seksi jangan nyesel kalau nanti diperkosa. Mengingat Jakarta itu kota sibuk yang cukup tinggi tingkat kejahatan yang disebabkan oleh ‘orang-orang yang otaknya dikit’, menurut gw cewe-cewe emang harus waspada banget.

Tentang pemerintah yang mengatakan kalau perempuan sebaiknya nggak pakai rok mini, menurut gw ada benarnya. Gw yakin banget kalau perempuan menutup dan menjaga tubuhnya dengan baik dia akan terhindar dari musibah pemerkosaan gitu. Apalagi kalau dia pulang malam dan pakai kendaraan umum, kita nggak akan tau apa yang ada di depan kita beberapa menit ke depan kan? Jadi kalau kata gw sadar diri aja sih. Buat apa kayak gituan di demo? Nggak ada kerjaan lain?”

  • Maya Junita D (24, Female, Master of Science in Applied Psychology in Human Resources, Consultant, living in Jakarta)

“Gw hampir selalu pakai rok, mau yang mini sekitar 3/4 paha atau model rok bego. Concernnya adalah kenyamanan. Cuman gw nggak ada maksud untuk tampil seksi. Gw sadar diri aja sebagai muslim ada batasan yang jelas dalam berpakaian. Gw pakai rok mini itu udah salah, jadi gw akan bersikap lebih hati-hati pas pakai rok biar nggak keliatan ‘mengundang’.

Gw nggak ikutin issue tentang rok mini & pemerkosaan, karena males aja ngikutin hal begituan. Gw makin kesel begitu tau ada yang demo segala, dimana moral perempuan Indonesia? Apalagi kalau mereka beragama Muslim. Nggak usah defensif kalau tau yang didefense itu hal yang salah. Apa nggak malu ya kalau tau agama udah nyuruh kita untuk menutup aurat, tapi kita nggak menutup aurat, dan kemudian malah mendemo omongan yang secara agama itu benar dan diucapkan untuk kebaikan kita sendiri… Kasian banget sih gw sama perempuan Indonesia yang demo kemarin kalo emang begitu.”

  • Rendika Gaure “Igor” (25, Male, Master of Finance and Master of Childhood Education, Teacher, living in Cambridge)

“Gw menilai sebagai half-Indonesian dan Muslim ya, gw ya malu denger beritanya, baik berita dari pemerintahnya sama dari masyarakatnya. Tapi bukannya emang gitu ya setiap ada peraturan, regulasi, opini, kritik, dll, yang dilakukan pertama kali pasti ‘defending’. Jadi rada nggak aneh juga sih sebenernya hehehe…

Menurut gw, laki-laki itu seperti kucing, di kasih ikan dia pasti mau. Yang membedakan kucing dengan manusia, manusia itu diberi akal, harusnya dia bisa berfikir dan menahan nafsunya. Yang membedakan ikan dengan manusia itu juga ya akalnya. Perempuan nggak boleh ‘berenang’ sebebasnya dan mengundang nafsu pria. Remember, ini urusan yang sangat pribadi, artinya ketika ada orang mengingatkan elo nggak mau denger dan ketika elo diperkosa you are all alone. Di sini pun (Eropa) pemerkosaan karena pakaian yang anonoh juga tetep ada.”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s