Daily Journal · Uncategorized

,,,nothing can substitute experiences

Pas tadi siang saya blogwalking sambil makan siang, saya berkunjung ke sebuah blog yang dulu sering saya baca. Dulu means 2 hingga 3 tahun yang lalu 😀 Saya nggak kenal orangnya, tapi dari baca2 postingan dia dulu saya masih hafal kira2 dia tinggal dimana, dulu lagi sibuk ngapain, dan siapa pacarnya (dulu) yang ternyata masih saudara sama temen saya… Hihihi…

Saya membaca sebuah post yang dia tulis tentang drama dalam hidup beberapa orang yang dia kenal. Dia bertanya-tanya, apakah pengalaman hidup itu exist di saat kita masih Teen or Tweenagers? Seperti yang kita ketahui, pengalaman hidup itu membentuk siapa diri kita di masa depan; membentuk kita menjadi orang yang tough… atau orang yang terbuai dalam kesenangan hidup. Lalu pada saat usia berapakah seseorang bisa mempelajari pengalaman hidupnya dan bertransformasi menjadi ‘Seseorang’ di masa depannya?

Nggak usah bicara tentang saya yang kebetulan dihantam beberapa cobaan yang ‘aneh’ sejak akhir teen dan awal tween saya. Bicara saja tentang orang tua kita jaman dulu. “Kenapa kok papa ngerokok?”. Mungkin ada di antara salah satu ayah kita jawab, “Karena dulu papa nggak punya uang dan sering nongkrong sama preman2 jalanan, trus ditawarin rokok.” atau, “Kamu nggak tau gimana susahnya bekerja menghidupi keluarga ini.” As simple as that. Pengalaman seperti itu membuat ayah kita menjadi perokok.

Di Jakarta, sekarang kita bisa ngeliat pedagang koran di perempatan lampu merah pas malam hari. Umurnya paling masih 6-10 tahun, tapi mereka sudah dipekerjakan supaya bisa sekolah di siang harinya. Mereka nggak mendapatkan apa yang seharusnya mereka dapatkan: pendidikan yang layak, orang tua yang menemani mereka bikin PR, apalagi waktu untuk bermain! Terus, dalam hati kita kasihan dan bergumam, “Anak2 ini gimana masa depannya nanti?”

Ada berbagai kemungkinan jawaban, but time will tell. Apakah mungkin anak2 itu akan tetap berjualan koran? Mungkin. Tapi apa mungkin mereka jadi pengusaha seperti Ilham Bintang? Kenapa nggak mungkin?! In life, we are given a test that teaches us a lesson. Life is testing us in many ways, permasalahannya, kita mau nggak belajar dari situ?

Kalau kita belum dapet pengalaman yang life-changing, sampai kita pengen berteriak2, “I want a drama in my life!“, berfikirlah, jangan berteriak. Karena nggak semua yang mendatangkan pelajaran adalah pengalaman buruk, tapi bisa juga pengalaman baik. Always remember, everything does happen for a reason, kok! Sekarang banyak reality show seperti idol-idol-an, The Amazing Race (Asia), dll, ikutilah salah satu kalau kita merasa butuh pengalaman yang life-changing, tapi sepertinya tuhan nggak cukup peduli untuk memberikan kita satu cobaan yang bikin kita depressed kemudian bangkit lagi. Yaa… atau memang karena kita pengen ikutan 😀

Satu hal yang pastinya membangun sebuah pengalaman adalah keluarga dimana kita dibesarkan. Saya masih ingat ketika kecil ayah saya selalu bilang jangan sama2in diri kita dengan orang lain karena saya pengen juga punya sepatu baru atau pergi ke luar  negeri kayak temen2 saya. Ayah saya bilang, setiap keluarga berbeda. Si kaya mungkin aja pergi sama anak2nya tiap tahun, si miskin mungkin hanya bisa ke sekolah pakai sepeda setiap harinya. Apakah pengalaman seperti itu yang di-consider akan membuat seseorang bisa menjadi ‘dirinya yang sekarang’?

Saya dan teman-teman saya sangat berbeda. Usia teman saya mau 25 sebentar lagi. Dan dia… udah pergi ke 12 negara. What? Itu seperti 1 negara per 2 tahun. Tapi, saya pikir, itu wajar lho… orang tuanya kan diplomat. Selain itu dia berasal dari negara yang punya vacation leave setiap tahunnya untuk refreshing. Kalau ada duit dan kesempatannya, why not? Ada lagi temen saya yang hidupnya keliatan lempeng… lurus… and happy… tapi isi blognya thoughtful and meaningful. Saya jadi bertanya2, kapan orang ini mikirnya? Keliatannya dia happy2 aja tapi kok bisa nuangin isi pikiran lebih jago daripada saya yang asal Psikologi. Oh… ternyata dia memang sering having meaningful conversation with her parents. Rupanya ability dia untuk bikin tulisan bagus adalah dari situ. Saya juga kenal seseorang pas saya SMP, kok masih SMP udah ngerokok di Warjo (warung kacang ijo), trus pas SMA dia udah nyimeng… sampai sekarang masih nyimeng juga! Ternyata awalnya, dia punya kakak yang usianya 6 tahun di atas dia, dan kerjaannya juga nyimeng mulu dari pas temen saya masih SMP. Jadi pas dia SMP umur 14 tahun, kakaknya udah 20 dan nurunin kebiasaan jelek itu pada dia, dan sekarnag dia udah addict.

Saya sendiri punya masa lalu yang bisa saya bilang pada akhirnya membentuk saya yang sekarang. Tapi saya tetep saya yang dulu, hanya saya udah uncheck beberapa persepsi tentang hidup. True love doesn’t exist [uncheck]; You can hide your sadness with smiles [uncheck – tambahin tulisan Bullshit gede2!]; dan banyak lainnya. Saya tetep orang yang humoris, selebor dan nggak bisa bawa Teh Botol di atas nampan, tapi sekarang saya seorang istri dan ibu, saya nggak mungkin menjadi saya ketika berumur 17 lagi. You know what I mean? Plus, mungkin saja saya banyak jungkir baliknya beberapa tahun lalu. Tapi sekarang? Hidup saya lempeng-peng-peng…

So, menjadi dewasa melibatkan apa yang kita pelajari dari pengalaman-pengalaman, the good ones and the bad ones. Dan apapun yang terjadi pada seseorang, itu adalah realita. Jangan komentarin hal itu karena kita nggak akan pernah ada in the same boat, boro2 in the same shoes! Suatu hari teman saya menulis ini, saya rasa saya akan mengcopy-pastenya karena akan jadi ending yang bagus buat menutup postingan ini 😀 Enjoy!

“Tale as old as time, tune as old as song, bitter sweet and strange, finding you can change, learning you were wrong.”

by: MDSAYWHAT.

I don’t believe in fairy tales 😦 I don’t believe in a world without war, and I don’t believe in knights in shining armor. There’s no such thing as perfect. No such thing as happily ever after. Unloved step-daughters do not turn into princess, kisses don’t heal, and frogs don’t turn into princess.
But I do believe in reality. I believe in hurt and suffering, like I believe in pain and loss. I believe in the little kid who sits by the door waiting for his/her daddy to come home. I believe in the teenage girl who looks in the mirror and doesn’t see “pretty”, like I believe in the teenage boy with a weed in his hands and his sight is covered by thick smokes. I believe in the young woman left alone by her fiance, like I believe the young man who is not good enough in his father’s eyes. I believe in the young parent with a child in heaven. I believe in the man preparing his mother’s funeral. I believe in the old lady & man living along in a convalescent home, like I believe in the old lady & man lying in a hospital bed.. fighting for their lives.
Life is not a fairy tale me thinks. We just have to hang on to that shred of hope that if we wish hard enough, our wishes will come true, although the rational part of us knows they never will….
…. And that’s what dreams are for.
“I believe you don’t know what you’ve got until you say goodbye.” (Affirmation – Savage Garden)

♥, Me.

One thought on “,,,nothing can substitute experiences

  1. Setuju…. Usia bukan patokan apa orang tersebut udah punya banyak/sedikit pengalaman. Banyak yang bilang nggak punya pengalaman bukannya karena belum pernah merasakannya, tapi mungkin belum pernah belajar dari pengalaman. Pengalaman buruk memang selalu jadi guru yang baik, tapi kalau bisa belajar dari suatu hal yang baik kan tetep bisa bikin improvement juga. On the other hand, pengalaman juga musti dicari kali yaa…? 😀 Love this!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s